FN Indonesia Siak - Sinergi TNI, Polri, pemerintah daerah, pelaku usaha hingga serikat pekerja diwujudkan melalui gerakan penanaman 20 ribu bibit pohon di Kabupaten Siak, Riau. Kegiatan ini menyasar lahan seluas 40 hektare, termasuk kawasan yang pernah terdampak kebakaran, sebagai upaya memulihkan lingkungan dan menghijaukan kembali Bumi Lancang Kuning. 

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari peringatan HUT ke-81 TNI sekaligus mendukung program Presiden Indonesia Asri. Sebanyak 1.530 personel TNI, Polri dan masyarakat, termasuk kalangan buruh, dilibatkan dalam gerakan penghijauan tersebut. 

Kabaharkam Polri Komjen Pol Herry Heryawan yang sebelumnya menjabat Kapolda Riau mengatakan, pemulihan lingkungan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak dan tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri. 

Menurutnya, upaya menghijaukan Riau, terutama wilayah yang pernah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dunia usaha dan pekerja. 

"Kita ingin memastikan bahwa kegiatan menghijaukan Riau, terutama daerah-daerah bekas karhutla, tidak dilakukan secara parsial, tetapi secara bersama-sama," tutur Herry kepada awak media.

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut juga menjadi momentum memperkuat semangat kebersamaan antara TNI dan rakyat serta sejalan dengan semangat Polri bersama masyarakat. 

"Penanaman pohon ini sebagai bentuk sedekah ekologi, yakni upaya memberikan manfaat bagi alam yang diharapkan dapat diwariskan kepada generasi mendatang," imbuh Komjen Pol Herry Heryawan. 

Ia turut mengapresiasi seluruh pihak yang berkontribusi, termasuk Pemerintah Kabupaten Siak, jajaran TNI-Polri, serta para pemangku kepentingan dan serikat pekerja yang terlibat dalam kegiatan tersebut. 

Sementara itu, Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen TNI Agus Hadi Waluyo mengatakan, penanaman 20 ribu bibit pohon di atas lahan seluas 40 hektare merupakan langkah konkret dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui kolaborasi dan gotong royong. 

Menurut Agus, penanaman tersebut bukan sekadar kegiatan simbolis, melainkan investasi jangka panjang untuk memastikan generasi mendatang tetap dapat menikmati lingkungan yang hijau dan lestari.

"Kami tidak hanya sekadar menanam, tetapi juga memastikan tanaman yang ditanam ini dirawat sehingga 10 atau 20 tahun mendatang menjadi investasi besar bagi anak cucu kita," imbuh Pangdam. 

Ia menambahkan, jenis pohon yang ditanam akan disesuaikan dengan kondisi lahan, termasuk area yang sebelumnya mengalami kebakaran. Perawatan setelah penanaman menjadi bagian penting agar bibit dapat tumbuh dan memberikan manfaat bagi lingkungan. 

Gerakan tersebut mengusung semangat cegah, rawat, dan hijaukan, sebagai upaya mendorong pencegahan karhutla sekaligus memulihkan kawasan yang terdampak kerusakan lingkungan. 

Melalui kolaborasi lintas sektor ini, penanaman pohon diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berlanjut melalui pemeliharaan dan pengawasan bersama agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.