FN Indonesia Pekanbaru - Langkah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau terus diperkuat melalui operasi udara. Sejak Februari 2026, Satgas Udara Lanud Roesmin Nurjadin mencatat hampir 163 sorti penerbangan water bombing dengan total sekitar 50,4 juta liter air yang dijatuhkan ke sejumlah titik kebakaran. 

Kepala Dinas Operasi (Kadisops) Lanud Roesmin Nurjadin, Kolonel Pnb Andri Setyawan, mengatakan operasi water bombing merupakan bagian dari Satgas Udara dalam struktur Satgas Penanganan Karhutla Provinsi Riau. 

Satgas Udara bertugas mengendalikan sekaligus mengoperasikan seluruh aset udara yang digunakan dalam penanganan karhutla, khususnya untuk operasi pemadaman menggunakan metode water bombing. 

“Kita di Satgas Udara dalam penanganan karhutla di Provinsi Riau. Seluruh aset-aset udara yang digunakan untuk penanganan karhutla, khususnya water bombing, kami yang diberikan mandat untuk mengendalikan dan mengoperasikan,” ujar Andri. 

Saat ini, Satgas Udara mendapat dukungan empat unit helikopter water bombing dari BNPB pusat. Empat helikopter tersebut terdiri dari dua unit jenis Mi-8, satu Black Hawk, dan satu Sikorsky. 

Sebelumnya, terdapat lima helikopter yang dikerahkan untuk mendukung penanganan karhutla di Riau. Namun, satu unit kemudian digeser atas perintah BNPB untuk membantu penanganan karhutla di wilayah Kalimantan. 

Andri menjelaskan, pengerahan helikopter water bombing difokuskan pada titik-titik kebakaran yang sulit ditangani oleh tim darat. Terutama lokasi dengan luasan api cukup besar, keterbatasan sumber air, maupun wilayah yang sulit dijangkau personel karena kondisi medan. 

Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah kawasan Kerumutan, termasuk wilayah Suaka Margasatwa. Selain memiliki medan yang sulit, kawasan tersebut merupakan habitat harimau dan memiliki keterbatasan sumber air. 

Kondisi tersebut membuat pengerahan personel darat memiliki risiko tersendiri. Karena itu, kemampuan helikopter water bombing dimaksimalkan untuk menjangkau titik api dari udara. 

“Contohnya di Kerumutan, di Suaka Margasatwa, di mana di sana juga menjadi habitat harimau dan sumber airnya cukup sulit. Itu menjadi ancaman juga bagi personel darat masuk ke sana sehingga kita maksimalkan kemampuan helikopter water bombing ini,” jelasnya. 

Setiap helikopter water bombing memiliki kemampuan membawa sedikitnya sekitar 4.000 liter air dalam sekali pengambilan. 

Dalam satu kali misi penerbangan, helikopter dapat melakukan pengambilan air dan penjatuhan berkali-kali, tergantung kondisi sumber air serta lokasi titik kebakaran. Rata-rata satu helikopter mampu melakukan sekitar 30 hingga 100 kali pengambilan air dalam satu penerbangan. 

Dengan rata-rata sekitar 50 kali pengambilan air, satu helikopter dapat menjatuhkan hampir 200 ribu liter air dalam satu sorti penerbangan. 

Andri menggambarkan kapasitas tersebut setara dengan sekitar satu tangki mobil pemadam kebakaran berukuran sedang setiap kali helikopter melakukan satu pengambilan dan penjatuhan air. 

“Kalau kita menggunakan mobil pemadam kebakaran saja, sekali angkut sekitar empat ribu sampai lima ribu liter air. Jadi satu kali pengambilan ini sama seperti men-drop satu tangki mobil pemadam kebakaran ukuran sedang,” katanya. 

Sejak Februari 2026, atau sejak ditetapkannya status darurat karhutla di Provinsi Riau, operasi water bombing telah dilakukan hampir 163 sorti penerbangan. Total air yang telah dideploy ke berbagai titik api mencapai sekitar 50,4 juta liter. 

Menurut Andri, operasi udara tersebut sejauh ini cukup efektif membantu pemadaman, terutama pada lokasi yang sulit dijangkau tim darat. 

Sejumlah titik yang sebelumnya ditangani melalui water bombing antara lain kawasan Pematang Pudu dan Samsam Kandis di Kabupaten Siak. 

Dalam beberapa hari terakhir, fokus operasi udara kembali diarahkan ke kawasan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan. 

Selain itu, helikopter water bombing juga sempat dikerahkan untuk membantu penanganan kebakaran di Dayun, Kabupaten Siak, setelah titik api dilaporkan mendekati kawasan sumur pengeboran. 

“Kemarin juga ada titik api di Dayun Siak yang sudah cukup mendekat ke sumur pengeboran. Kita berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Siak sehingga kita membantu men-deploy water bombing di sana,” ungkap Andri. 

Dalam pelaksanaan operasi, setiap helikopter rata-rata memiliki durasi terbang sekitar empat hingga empat setengah jam, menyesuaikan daya tahan terbang dan ketersediaan bahan bakar. 

Setelah mencapai batas endurance, helikopter harus kembali untuk melakukan pengisian bahan bakar. Proses refuel berlangsung sekitar 45 menit sebelum helikopter kembali dikerahkan apabila kondisi di lapangan masih membutuhkan dukungan water bombing. 

Andri menegaskan, water bombing bukan pengganti operasi pemadaman darat, melainkan menjadi salah satu dukungan strategis untuk memperkuat upaya pemadaman, terutama ketika tim darat menghadapi keterbatasan akses dan sumber air. 

Ke depan, Satgas Udara berharap kesiapan dan dukungan armada helikopter dapat terus ditingkatkan untuk menghadapi potensi karhutla di Riau. 

“Kita harapannya ke depan kesiapan heli mungkin bisa kita tingkatkan lagi. Kita akan berkoordinasi terus dengan BNPB,” pungkas Andri.