FN Indonesia Pekanbaru – Dinas Kesehatan Provinsi Riau mencatat sebanyak 11.140 kasus penyakit yang diduga berkaitan dengan dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama periode 19 Agustus hingga 7 September 2026. 

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli, mengatakan kasus tersebut tersebar di 12 kabupaten/kota. Dari jumlah tersebut, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi penyakit yang paling banyak ditemukan dibandingkan gangguan kesehatan lainnya. 

“Dari tanggal 19 Agustus sampai 7 September tercatat 11.140 penderita. Kasus terbesar didominasi ISPA,” kata Zulkifli. 

Selain ISPA, sejumlah penyakit lain yang dipantau sebagai dampak paparan asap karhutla yakni pneumonia, asma, iritasi kulit dan radang atau iritasi mata. 

Zulkifli menjelaskan, peningkatan kasus terjadi seiring meluasnya wilayah yang terdampak asap. Pada awal periode pencatatan, hanya sekitar empat kabupaten yang terdampak. 

Namun, dalam beberapa hari berikutnya, paparan asap meluas hingga tujuh kabupaten. Kondisi tersebut kemudian berkembang hingga mencakup seluruh 12 kabupaten/kota di Riau. 

Meski jumlah kasus meningkat, Zulkifli memastikan seluruh pasien yang terdata masih dapat ditangani di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama. Penanganan dilakukan melalui puskesmas, puskesmas pembantu, poskesdes hingga klinik yang berada di masing-masing daerah. 

“Dari laporan kabupaten dan kota, kasus-kasus tersebut masih tertangani di layanan dasar atau layanan primer. Belum ada yang sampai harus dirujuk ke rumah sakit,” ujarnya. 

Untuk mengantisipasi dampak kesehatan yang lebih luas, Dinas Kesehatan Riau telah meningkatkan kesiapsiagaan tenaga medis di seluruh wilayah. 

Di tingkat puskesmas, Emergency Medical Team (EMT) telah diaktifkan sebagai bagian dari upaya mempercepat respons apabila terjadi peningkatan kasus akibat kondisi udara yang memburuk. 

Selain pelayanan medis, Dinkes Riau juga memperkuat langkah promotif dan preventif melalui edukasi kepada masyarakat. Sosialisasi dilakukan melalui media sosial, podcast bersama dokter spesialis paru, serta media massa. 

Pembagian masker juga terus dilakukan. Zulkifli menyebut, pada tahap awal Dinkes Riau memiliki stok sekitar 120 ribu masker, termasuk 100 ribu masker yang didistribusikan oleh Pusat Krisis Kementerian Kesehatan RI. 

Masker tersebut kemudian disalurkan kepada masyarakat melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk institusi pendidikan, organisasi masyarakat dan instansi terkait. 

“Kami terus berkolaborasi dengan institusi pendidikan, organisasi masyarakat dan instansi terkait untuk pembagian masker kepada masyarakat,” jelasnya. 

Dari seluruh wilayah Riau, Kota Pekanbaru tercatat menjadi daerah dengan jumlah kasus terbanyak. Menurut Zulkifli, kondisi tersebut tidak serta-merta disebabkan adanya titik api besar di wilayah ibu kota provinsi. 

Asap yang menyelimuti Pekanbaru diduga merupakan kiriman dari wilayah lain yang terdampak karhutla, tergantung arah pergerakan angin. Selain itu, jumlah penduduk Pekanbaru yang mencapai sekitar 1,2 juta jiwa turut membuat jumlah warga yang berpotensi terpapar menjadi lebih besar. 

Zulkifli menambahkan, fasilitas kesehatan di Pekanbaru juga telah meningkatkan kesiapsiagaan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap. 

Dari total 11.140 kasus yang tercatat, ISPA menjadi penyakit yang paling dominan. Sementara kasus pneumonia, asma, iritasi mata dan iritasi kulit jumlahnya relatif lebih kecil. 

Dinkes Riau mengimbau masyarakat, terutama kelompok rentan dan mereka yang memiliki riwayat gangguan pernapasan, untuk mengurangi aktivitas di luar rumah selama kualitas udara memburuk. 

“Kalaupun harus keluar rumah, gunakan masker atau alat pelindung diri. Perbanyak minum, istirahat cukup dan konsumsi makanan bergizi seperti buah-buahan dan sayuran,” kata Zulkifli. 

Terkait kondisi kualitas udara, Dinkes Riau masih mengacu pada informasi yang disampaikan instansi terkait seperti BMKG dan BPBD. Masyarakat diminta mengikuti perkembangan kualitas udara dari sumber resmi untuk menentukan aktivitas di luar rumah. 

Kesiapsiagaan juga dilakukan pada hari libur. Zulkifli mengatakan pelayanan kesehatan tetap berjalan, terutama pada puskesmas yang memiliki fasilitas rawat inap. 

Dari 244 puskesmas yang tersebar di 12 kabupaten/kota di Riau, sebanyak 182 di antaranya merupakan puskesmas rawat inap. 

“Puskesmas rawat inap tetap dibuka. Kami juga sudah menyiapkan tenda di halaman Dinas Kesehatan Provinsi Riau sebagai bagian dari kesiapsiagaan,” imbuhnya. 

Selain itu, Dinkes Riau telah menyiapkan rumah oksigen dengan tiga tempat tidur beserta persediaan oksigen. Satu unit ambulans juga disiagakan sebagai langkah awal apabila sewaktu-waktu terjadi kondisi darurat kesehatan akibat memburuknya kualitas udara.