FN Indonesia Pekanbaru - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 9 Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) mendorong warga RW 09, Kelurahan Tangkerang Timur, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru, mengembangkan hasil kebun menjadi produk bernilai ekonomi. 

Program tersebut menjadi puncak rangkaian kegiatan KKN yang diawali dengan pembersihan lahan, penanaman bibit Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dan sayuran, hingga proses perawatan dan pemanenan. Sosialisasi pengolahan hasil kebun digelar di Balai Pertemuan RW 09, Minggu (23/8/2026). 

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua TP PKK Kelurahan Tangkerang Timur, Ns. Riri Purnama Sari, S.Kep., bersama ibu-ibu PKK RW 09 yang mengikuti rangkaian program sejak awal. 

Program ini merupakan bagian dari kerja utama KKN Kelompok 9 bertajuk “Optimalisasi Pekarangan Pangan Lestari sebagai Basis Ketahanan Pangan dan Ekonomi Masyarakat RW 09 Kelurahan Tangkerang Timur, Kecamatan Tenayan Raya.” 

Sejak awal pelaksanaan KKN, mahasiswa bersama warga membuka dan membersihkan lahan komunal yang kemudian dimanfaatkan untuk menanam berbagai jenis tanaman, seperti kunyit, kencur dan sayuran di kawasan Apotik Hidup. 

Setelah tanaman tumbuh dan dapat dipanen, mahasiswa KKN kemudian memberikan pendampingan kepada warga untuk mengolah hasil kebun menjadi produk yang memiliki nilai jual, di antaranya jamu herbal dan paket sayuran siap masak. 

Ketua KKN Kelompok 9, Arrel Dwi Rizki, mengatakan lahan Pekarangan Pangan Lestari (P2L) dan Apotik Hidup di RW 09 sebenarnya telah cukup produktif. Namun, hasil panen selama ini lebih banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumsi warga. 

“Kami ingin mengajak ibu-ibu untuk melihat peluang dari sesuatu yang sebenarnya sudah ada di depan mata. Hasil kebun TOGA dan sayur di RW 09 ini sangat berpotensi diolah menjadi produk bernilai jual, bukan hanya dikonsumsi sendiri,” tutur Arrel. 

Dalam kegiatan tersebut, tim KKN memperkenalkan dua jenis produk dengan merek “Juara Lestari”, yakni jamu tradisional dan paket sayuran segar siap masak. 

Produk jamu tradisional hadir dalam tiga varian, yaitu kunyit asam, beras kencur dan jahe manis. 

Sementara paket sayuran siap masak terdiri dari dua pilihan, yakni paket capcay yang berisi kol, sawi, baby corn, buncis dan wortel, serta paket sayur asam yang terdiri dari melinjo, kacang panjang, nangka muda dan labu siam. 

Arrel mengatakan, program tersebut juga diarahkan untuk memperkuat peran Dasa Wisma sebagai unit terkecil PKK. Dasa Wisma dinilai memiliki potensi untuk menjadi wadah pengelolaan produksi sekaligus pemasaran produk dari rumah ke rumah. 

“Program ini bukan sesuatu yang baru sama sekali, melainkan penguatan dari peran Dasa Wisma yang sudah ada. Kita arahkan lebih fokus ke satu kegiatan konkret, yaitu mengolah hasil kebun menjadi produk bernilai ekonomi untuk mendukung pemberdayaan ekonomi keluarga,” jelasnya. 

Dari sisi peluang usaha, tim KKN memberikan gambaran sederhana mengenai potensi keuntungan. Modal produksi satu paket sayur siap masak diperkirakan sekitar Rp2.000 karena bahan bakunya berasal dari kebun sendiri. Sementara harga jual yang disarankan berada di kisaran Rp5.000 hingga Rp7.000 per paket. 

Ketua TP PKK Kelurahan Tangkerang Timur, Ns. Riri Purnama Sari, menyambut baik program yang digagas mahasiswa KKN UMRI tersebut. 

“Kami sangat mengapresiasi ide dari adik-adik mahasiswa KKN ini. Semoga ke depannya program ini bisa terus berjalan dan benar-benar bermanfaat bagi ekonomi keluarga ibu-ibu di RW 09,” katanya. 

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi bersama ibu-ibu PKK. Sejumlah hal dibahas, mulai dari penamaan varian produk, strategi penetapan harga, hingga pembagian tugas dalam proses produksi dan pemasaran. 

Tim KKN Kelompok 9 juga menyatakan siap memberikan pendampingan pada tahap awal implementasi program, termasuk membantu pembuatan label, konten promosi dan pencatatan sederhana hasil usaha. 

Kegiatan tersebut menjadi salah satu rangkaian program kerja KKN Kelompok 9 UMRI yang ditempatkan di Kelurahan Tangkerang Timur sejak Juli 2026, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr. Radhiyatul Fithri, M.Ag. 

Mahasiswa berharap melalui kegiatan ini hasil kebun warga tidak hanya mendukung ketahanan pangan keluarga, tetapi juga dapat berkembang menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat RW 09. (Rfk)