FN Indonesia Pekanbaru - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau kembali menjadi perhatian serius memasuki periode rawan kebakaran. Pemerintah Provinsi Riau bersama Polda Riau, TNI dan sejumlah unsur terkait memperkuat kesiapan untuk memastikan setiap potensi karhutla dapat ditangani sedini mungkin. 

Penguatan kesiapsiagaan itu ditandai dengan apel bersama yang digelar di Mapolda Riau. Apel dipimpin Plt Gubernur Riau SF Hariyanto dan dihadiri Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan, Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen TNI Agus Hadi Waluyo serta Kajati Riau I Dewa Gede Wirajana. 

Sejumlah unsur lain turut hadir, di antaranya Kalaksa BPBD Riau M Edy Afrizal, Koordinator Wilayah BMKG Provinsi Riau Warjono, Kepala SAR Riau Budi Cahyadi serta tokoh adat dari Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR). 

SF Hariyanto mengatakan kesiapan menghadapi karhutla harus dipastikan secara menyeluruh. Menurutnya, apel bukan hanya menjadi agenda seremonial, tetapi menjadi momentum untuk mengecek kesiapan personel, peralatan, sistem komunikasi hingga dukungan operasional di lapangan. 

Ia menyebut kondisi cuaca berdasarkan informasi BMKG saat ini turut meningkatkan potensi terjadinya karhutla. Untuk itu, seluruh unsur diminta memperkuat lima aspek kesiapan, mulai dari personel dan peralatan, penyatuan data serta koordinasi, kecepatan merespons titik panas, patroli dan pelibatan masyarakat, hingga keselamatan petugas dan perlindungan warga. 

“Setiap peringatan harus segera diikuti dengan tindakan nyata. Kecepatan respons harus menjadi pola kerja kita,” tegas SF Hariyanto. 

Menurutnya, masyarakat juga memiliki peran penting dalam upaya pencegahan. Keberadaan Masyarakat Peduli Api diharapkan dapat membantu aparat dan pemerintah mendeteksi kemunculan asap maupun indikasi kebakaran sejak awal. 

Sementara itu, Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan mengungkapkan bahwa langkah antisipasi karhutla telah dilakukan sejak jauh sebelum kondisi memasuki masa rawan. Sejak Maret 2026, Polda Riau bersama jajaran telah melaksanakan sekitar 63 apel kesiapsiagaan di seluruh kabupaten dan kota di Riau. 

“Ini menandakan bahwa kita bersama-sama TNI dan terutama pemerintah daerah adalah terdepan untuk menghadapi ancaman bahaya kebakaran hutan dan lahan,” ucap Herry. 

Herry menjelaskan, penanganan karhutla di Riau tidak hanya berorientasi pada pemadaman api. Ada tiga strategi utama yang menjadi fokus, yakni pencegahan, penegakan hukum dan restorasi lingkungan. 

Pada sisi pencegahan, sejumlah langkah dilakukan melalui pembangunan embung, sekat kanal, sumur, menara pantau, patroli serta peningkatan edukasi kepada masyarakat. 

Sementara untuk penegakan hukum, aparat tetap akan menindak tegas pihak yang terbukti melakukan pembakaran. Namun, proses hukum dipastikan dilakukan secara profesional dan terukur. 

“Pada tahun lalu, kita telah melakukan penegakan hukum dengan mengamankan sebanyak 86 tersangka. Alhamdulillah, seluruh perkara tersebut telah dilanjutkan ke Kejaksaan dan sebagian di antaranya telah memasuki proses persidangan. Sementara itu, pada tahun 2026, hingga bulan Juli, sudah terdapat 19 kasus dengan 25 tersangka yang kita amankan. Dan proses penegakan hukum ini masih terus berjalan,” terang Herry. 

Selain pencegahan dan penindakan, aspek pemulihan lingkungan juga menjadi perhatian. Polda Riau terus mendorong kegiatan restorasi dan penghijauan sebagai bagian dari upaya mengembalikan kualitas lingkungan sekaligus menghapus citra Riau sebagai daerah yang identik dengan kabut asap. 

“Kita ingin mengubah stigma itu. Riau harus dikenal sebagai daerah yang peduli lingkungan dan aktif melakukan penghijauan,” tegasnya. 

Herry menambahkan, persoalan karhutla tidak mungkin diselesaikan hanya oleh satu institusi. Pemerintah daerah, TNI-Polri, dunia usaha dan masyarakat harus memiliki peran yang saling menguatkan, terutama dalam mendeteksi dan mencegah kebakaran sejak dini. 

Semangat tersebut juga menjadi bagian dari pelaksanaan Ekspedisi Merah Putih Presisi 2026 yang menyasar sejumlah wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T) di Riau. Selain memperkuat kehadiran negara, kegiatan itu turut membawa pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan. 

Melalui apel kesiapsiagaan tersebut, seluruh unsur di Riau kembali menegaskan komitmen untuk menghadapi ancaman karhutla secara bersama-sama. Upaya yang dilakukan tidak berhenti pada pemadaman saat api muncul, tetapi mencakup pencegahan, deteksi dini, respons cepat, penegakan hukum, perlindungan masyarakat hingga pemulihan lingkungan.